September 20, 2011

Tahu Campur Pelepas Rindu.



Malam kemarin, saya akhirnya bisa melepaskan kerinduan saya akan makanan khas Surabaya yang sering saya nikmati saat masih tinggal di sana. Hampir 30 tahun yang lalu, saya yang baru pindah dari kota Manna Bengkulu merasakan pengalaman kuliner yang begitu berbeda dengan daerah kelahiran saya.

Walaupun tidak semua orang menyukai masakan khas Jawa Timur yang biasanya sarat dengan bumbu petis tetapi menurut saya petis inilah yang membuat masakan Surabaya menjadi lebih sedap. Berbeda dengan suami saya yang notabene berasal dari Jawa Timur tetapi tidak pernah bisa menikmati makanan dengan aroma petis. Mulai dari Rujak Cingur, Kupang Lontong, Tahu Campur, Lontong Balap dan lain-lain. Jika masih tinggal di salah satu kota di pulau Jawa, saya tidak terlalu sulit untuk menikmati aneka makanan tersebut karena masih bisa dijumpai. Nah, saat saya menikah dan mengikuti suami ke Sangatta Kalimantan Timur maka hidangan ini mulai sulit untuk saya nikmati. Memang ada beberapa tempat makan yang menyediakan makanan tersebut tetapi rasanya ternyata jauh dari yang pernah saya nikmati.

Akhirnya kerinduan saya terjawab sudah setelah 8 tahun dengan adanya sebuah rumah makan sederhana dengan nama Depot Senyum. Entah mengapa pemiliknya menamakan demikian mungkin karena ingin membuat pelanggannya tersenyum setelah menikmati makanan di depot tersebut. Salah satunya yang tersenyum setelah menikmati berbagai menu disana adalah keluarga saya. Favorit saya adalah lontong balap dan tahu campurnya, suami dan anak saya Feldy memilih soto daging khas Jawa Timur, sedangkan Farrell sang kakak memilih nasi campur. Selain makanannya yang enak, minumannya juga sangat menyegarkan seperti es tape ketan hitam. Rasanya manis dan menyegarkan apalagi setelah menikmati tahu campur yang pedas. Harganya sangat terjangkau, berkisar antara 15 ribu - 20 ribu rupiah.

Akhirnya saya tidak perlu ke Surabaya hanya untuk menikmati masakan kesukaan saya dengan bumbu petisnya. Mau coba....silahkan datang ke Sangatta, teman-teman akan saya jamu ke sana.

February 16, 2011

Alhamdulillah...!!!

Alhamdulillah, itulah kata pertama yang terucap oleh saya saat mendengar kabar bahwa cerpen saya diterbitkan di koran Kaltim Post edisi Minggu tanggal 6 Februari 2011 yang lalu. Terus terang ini merupakan salah satu kejutan yang indah dalam kehidupan saya. Sebelumnya, saya tidak pernah percaya diri bila harus menulis cerpen atau apapun yang berhubungan dengan imajinasi. Teman-teman di FLP Sangatta pun mahfum jika saya selalu kalang kabut jika disuruh membuat cerita walaupun itu hanya dalam selembar kertas. Saya memang cenderung menulis mengenai sesuatu yang bersifat nyata dan sesuai logika alias non fiksi, jadi kalau disuruh buat proposal atau surat menyurat....saya langsung menyambarnya...:).

Jadi ketika cerpen saya yang berjudul "Rahasia Mira" dimuat, rasanya seperti melayang....tidak percaya tapi nyata...:). Semoga saja, peristiwa ini memicu saya untuk lebih produktif lagi dalam berkarya. Amin

January 11, 2011

Pulau Beras Basah, Pulau Kecil Nan Mempesona





Menikmati awal tahun baru 2011, kami sekeluarga mengunjungi sebuah pulau tak berpenghuni di sekitar perairan kota Bontang Propinsi Kalimantan Timur. Pulau ini cukup terkenal dikalangan para fotografer lokal karena panoramanya yang menawan. Pasir putih, laut biru dan pantai yang tidak berombak menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit bagi anak-anak yang ingin berenang.

Dari info yang saya dengar dari teman-teman inilah menggelitik rasa penasaran saya untuk membuktikan sendiri. Berangkat pada tanggal 1 Januari 2011, saya bersama-sama keluarga dan teman-teman sekerja berangkat jam 9 pagi dari Sangatta. Pada awal perjalanan, kondisi jalan masih cukup bagus tetapi setelah 15 menit pertama mulai terlihat kondisi jalan yang cukup parah. Lubang-lubang besar menganga, jalan patah dan longsor adalah gambar yang terlihat jelas sepanjang Sangatta - Bontang. Cukup mengejutkan memang karena setahun sebelumnya jalan ini baru saja diperbaiki tetapi memang kondisi jalan hampir di semua daerah Propinsi Kaltim tidak layak.


Untungnya Farrell dan Feldy menikmati saja perjalanan. Bagi Farrell perjalanan ini adalah hal yang sangat dinanti-nantikannya. Betapa tidak, ini adalah kali pertama Ia mencoba naik kapal laut. Tiba di Bontang, perut saya dan anak-anak sudah berteriak-teriak untuk diisi. Kami pun mampir di salah satu rumah ayam goreng dari negeri paman Sam. Maklum di kota kecil kami Sangatta, franchise ayam goreng ini tidak ada. Sedangkan anak-anak saya sudah terpengaruh dengan iklan yang menyatakan betapa crispynya ayam goreng ini...:)



Malam harinya, saya berwisata kuliner bersama teman-teman satu fakultas yang kebetulan bekerja di Bontang. Reuni kecil ini berisi berbagai macam obrolan ringan antar sesama teman. Menyenangkan sekali rasanya. Lelah dengan seluruh aktifitas hari itu, saya pun tidur dengan nyenyak di kamar hotel. Dengan harapan besaok pagi matahari bersinar cerah.

Diiringi semangat menyambut pagi, anak-anak pun dengan antusias bersiap diri. Rombongan yang berjumlah hampir 20 orang termasuk anak-anak berangkat menuju pelabuhan Tanjung Laut. Waktu kami tiba, perahu yang kami sewa masih berada dilautan karena disewa untuk menangkap ikan di malam hari. Tidak kurang 15 menit kemudian, kapal pun tiba. Kami langsung mengangkut semua barang-barang untuk keperluan di pulau ke dalam kapal. Bau anyir yang berasal dari ikan tidak membuat saya dan anak-anak merasa terganggu karena mata sudah asyik melihat-lihat pemandangan saat kapal berjalan. Ada patung Singa yang persis seperti patung Singa di negara tetangga Singapura. Lalu ada lampu-lampu mercusuar yang berdiri di berbagai tempat agar kapal tidak kandas di tempat-tempat dangkal. Mercusuarnya cukup unik, berupa bangunan prisma menara kayu dengan lampu-lampu besar di atasnya.


30 menit kemudian sampailah kami di pulau beras basah. Saat itu tempat ini sudah ramai dengan anak-anak dan orang dewasa yang sebagian besar berenang di pantainya yang berpasir putih. Saya langsung terpikat dan tidak sabar untuk ikut menikmati air laut yang jernih. Farrell dan Feldy langsung berganti baju dan berlarian menuju pinggir pantai. Tidak mau ketinggalan, teman-teman saya pun ikut menceburkan diri menikmati air laut termasuk saya. Benar-benar asyik, memandang langit biru sambil mengapung. Tanpa terasa saya memejamkan mata, hati saya terasa damai dan ringan. Tak peduli kulit hitam akibat terbakar matahari saya terus menikmati keindahan pantai ini.



Tidak ada bosannya hingga saya pun setengah memaksa anak-anak untuk mendarat karena sudah hampir dua jam berenang. Puas berenang, kami menikmati ikan bakar baronang yang terkenal lezat. Rasa lapar yang menyerang setelah lelah bermain air membuat hidangan yang ada lenyap dengan sekejap.

Benar-benar pengalaman yang menyenagkan. Farrell pun meminta liburan kembali ke Pulau Beras Basah di waktu yang lain. Ternyata banyak daerah di Indonesia yang menarik untuk dikunjungi, tunggu kami diliburan yang akan datang ya...!