April 3, 2013

Rasa Syukur

Kemarin sore saya mendapatkan hikmah dari sebuah perbincangan dengan tetangga depan rumah. Ibu Bahar demikian saya memanggilnya. Beliau baru saja ditinggal oleh sang suami tercinta. Saya senang berbincang dengan beliau karena keramahan dan keakrabannya terhadap saya dan keluarga. Anak-anak saya pun sudah terbiasa bermain ke rumahnya dan sangat dekat dengan mendiang suaminya.

Kami memang tidak sering berbincang, saya yang bekerja dan beliau yang sibuk dengan aktifitas sosialnya membuat intensitas kami berbincang sedikit sekali. Tetapi sore itu saya sedang menunggu anak-anak pulang berenang karena kunci rumah dibawa oleh asisten rumah tangga saya yang sedang menjemput mereka.

Saat duduk menunggu di teras depan rumah, bu Bahar saya lihat berjalan menuju ke rumahnya. Saya hampiri dan kemudian kami berbincang berbagai hal seputar kehidupan rumah tangga. Entah apa mulanya, saat kami akhirnya membicarakan mengenai rasa syukur dalam kehidupan.



Beliau mengatakan, "Orang kaya bukan orang yang mempunyai harta berlimpah melainkan orang yang tahu mensyukuri apa yang telah diperolehnya". Saya tertegun dan merasakan detak hati saya berdenyut lebih kencang. Kata-kata ini seakan menohok diri saya yang terkadang lupa berterima kasih atas segala apa yang telah saya miliki.

Memang terkadang kita terlalu sibuk untuk mencari, mencapai, dan memenuhi semua keinginan kita. Jika sudah menggapainya terkadang kita lupa untuk sejenak bersantai menikmati dan merasakan kebahagiaan atas apa yang telah kita dapatkan. Adalah kodrat kita sebagai manusia yang selalu tergesa-gesa, padahal dengan melambatkan ritme sejenak maka kita akan lebih menghargai apa yang telah kita peroleh.





Duduk sejenak dan bersyukur atas semua anugrah adalah cara paling ampuh menjadi orang kaya di dunia ini. Sungguh, kemarin adalah salah satu hari yang terbaik dalam kehidupan saya. Mendapatkan pelajaran tentang sebuah arti kehidupan.



July 31, 2012

Mengapa Kita Harus Menulis

Sudah teramat lama saya tidak menulis di blog ini. Ada saja alasan untuk membenarkan kemalasan saya untuk sekedar menari-nari di atas keyboard sejenak sekedar untuk menumpahkan apa yang ada didalam kepala. Capek, tidak ada waktu, sibuk, dan berjuta alasan lain saya kemukakan jika ada yang bertanya mengapa blog saya tidak pernah diupdate.

Benar adanya, sikap istiqomah dalam menulis adalah hambatan terbesar bagi seorang yang berusaha menjadikan menulis sebagai bagian dalam kehidupannya. Tanpa cinta dan usaha yang besar maka mustahil sikap itu menjadi bagian dari kehidupan kita. Kemarin, saat berbuka bersama dengan teman-teman FLP Sangatta, saya merasa disadarkan kembali alasan saya menyukai dunia ini.

1. Terapi untuk diri sendiri

Tanpa disadari, menulis merupakan cara saya untuk mengeluarkan emosi negatif dalam diri saya dengan       cara yang benar. Teringat sebuah pengalaman saat saya mengalami konflik dengan suami. Jika saya mengikuti emosi maka amarah yang keluar akan menjadi bara api yang akan membakar hubungan kami tetapi saat itu saya memutuskan untuk menuliskan kemarahan tersebut dalam bentuk tulisan sehingga kata-kata yang keluar menjadi tidak membakar tetapi membuat saya berpikir kembali tentang kemarahan yang saya alami. Dan ternyata saat suami membaca tulisan tersebut, dia bisa menerima kemarahan saya dengan sikap yang manis dan tenang.

2. Berbagi Pengalaman

Terkadang kita menganggap pengalaman yang kita alami adalah hal yang sepele dan tidak penting. Anggapan tersebut 100 % salah. Setiap pengalaman merupakan pembelajaran bagi diri kita maka bagi orang lain pun pengalaman kita merupakan contoh bagi mereka. Sudah banyak tulisan saya yang hanya berupa kisah-kisah sehari-hari yang biasa dihadapi oleh semua orang mendapatkan komentar dari banyak pembaca. Bahkan terkadang saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang belum dapat saya jawab dari pengalaman orang lain yang memberikan masukan kepada saya. Walaupun hanya berupa resep masakan sederhana tetapi ternyata itu bisa memberikan manfaat bagi banyak orang yang membutuhkannya.

Bersambung....

September 20, 2011

Tahu Campur Pelepas Rindu.



Malam kemarin, saya akhirnya bisa melepaskan kerinduan saya akan makanan khas Surabaya yang sering saya nikmati saat masih tinggal di sana. Hampir 30 tahun yang lalu, saya yang baru pindah dari kota Manna Bengkulu merasakan pengalaman kuliner yang begitu berbeda dengan daerah kelahiran saya.

Walaupun tidak semua orang menyukai masakan khas Jawa Timur yang biasanya sarat dengan bumbu petis tetapi menurut saya petis inilah yang membuat masakan Surabaya menjadi lebih sedap. Berbeda dengan suami saya yang notabene berasal dari Jawa Timur tetapi tidak pernah bisa menikmati makanan dengan aroma petis. Mulai dari Rujak Cingur, Kupang Lontong, Tahu Campur, Lontong Balap dan lain-lain. Jika masih tinggal di salah satu kota di pulau Jawa, saya tidak terlalu sulit untuk menikmati aneka makanan tersebut karena masih bisa dijumpai. Nah, saat saya menikah dan mengikuti suami ke Sangatta Kalimantan Timur maka hidangan ini mulai sulit untuk saya nikmati. Memang ada beberapa tempat makan yang menyediakan makanan tersebut tetapi rasanya ternyata jauh dari yang pernah saya nikmati.

Akhirnya kerinduan saya terjawab sudah setelah 8 tahun dengan adanya sebuah rumah makan sederhana dengan nama Depot Senyum. Entah mengapa pemiliknya menamakan demikian mungkin karena ingin membuat pelanggannya tersenyum setelah menikmati makanan di depot tersebut. Salah satunya yang tersenyum setelah menikmati berbagai menu disana adalah keluarga saya. Favorit saya adalah lontong balap dan tahu campurnya, suami dan anak saya Feldy memilih soto daging khas Jawa Timur, sedangkan Farrell sang kakak memilih nasi campur. Selain makanannya yang enak, minumannya juga sangat menyegarkan seperti es tape ketan hitam. Rasanya manis dan menyegarkan apalagi setelah menikmati tahu campur yang pedas. Harganya sangat terjangkau, berkisar antara 15 ribu - 20 ribu rupiah.

Akhirnya saya tidak perlu ke Surabaya hanya untuk menikmati masakan kesukaan saya dengan bumbu petisnya. Mau coba....silahkan datang ke Sangatta, teman-teman akan saya jamu ke sana.

February 16, 2011

Alhamdulillah...!!!

Alhamdulillah, itulah kata pertama yang terucap oleh saya saat mendengar kabar bahwa cerpen saya diterbitkan di koran Kaltim Post edisi Minggu tanggal 6 Februari 2011 yang lalu. Terus terang ini merupakan salah satu kejutan yang indah dalam kehidupan saya. Sebelumnya, saya tidak pernah percaya diri bila harus menulis cerpen atau apapun yang berhubungan dengan imajinasi. Teman-teman di FLP Sangatta pun mahfum jika saya selalu kalang kabut jika disuruh membuat cerita walaupun itu hanya dalam selembar kertas. Saya memang cenderung menulis mengenai sesuatu yang bersifat nyata dan sesuai logika alias non fiksi, jadi kalau disuruh buat proposal atau surat menyurat....saya langsung menyambarnya...:).

Jadi ketika cerpen saya yang berjudul "Rahasia Mira" dimuat, rasanya seperti melayang....tidak percaya tapi nyata...:). Semoga saja, peristiwa ini memicu saya untuk lebih produktif lagi dalam berkarya. Amin

February 12, 2011