April 4, 2009

Three Cups of Tea


Hari Kamis sore, saya menemukan buku yang selama ini saya cari. Judulnya Three Cups of Tea, berisi kisah nyata seorang pendaki gunung yang tersesat di salah pegunungan es tertinggi dunia K2 Balmoro Pakistan. Perjalanannya yang gagal dalam mencapai puncak memberikan arah hidup yang sangat berbeda pada dirinya.

Selama ini saya berpikir bahwa manusia yang ada di dunia saat ini telah terkotak-kotak menjadi ribuan kelompok yang berdasarkan anggapan atas perbedaan warna kulit, bangsa, agama, bahasa, suku, kaya, jabatan dan masih banyak sekali batasan yang kita ciptakan untuk menunjukkan bahwa diri kita berbeda dengan orang lain. Tetapi dalam buku ini saya belajar bahwa semua batasan yang kita ciptakan mengakibatkan penderitaan, peperangan dan berbagai masalah lain yang timbul hanya kita merasa bahwa kita berbeda.

Greg Mortenson, pendaki gunung ini dalam bukunya mengajarkan kepada saya bahwa kepedulian kita terhadap orang lain dapat membawa perubahan yang begitu dahsyat dalam kehidupan ribuan orang miskin di Pakistan. Segalanya berawal dari sini, ketika Greg tersesat, dia sampai di suatu desa kecil bernama Korphe yang penduduknya hampir tidak pernah keluar dari desa mereka karena jalur yang begitu sulit untuk ditempuh dari kota ditambah lagi dengan suku yang memerintah bukan dari suku mereka sehingga pemerintah tidak pernah melirik ke desa kecil tersebut.

Selama di desa tersebut, Greg ditampung di rumah Haji Ali seorang ketua di desa tersebut, mereka memberikannya pertolongan, makanan dan merawat Greg tanpa pamrih walaupun mereka sendiri berada kekurangan. Haji Ali berkata, "Di tempat kami berlaku aturan jika seseorang minum teh dari gelas pertama maka anda adalah tamu, jika anda minum teh gelas kedua maka anda dianggap keluarga dan gelas teh ketiga maka anda bergabung dengan kami dan kami bersedia mati untuk membela anda...Selama tinggal disana, Greg merasakan bahwa anggapannya selama ini bahwa muslim itu teroris berubah sudah. Di sana dia merasakan kehangatan dan penerimaan yang begitu terbuka membuatnya berpikir apa yang bisa dia lakukan untuk membalas semua kebaikan orang yang ada di Korphe. Dan akhirnya dia tahu yang harus dilakukannya yaitu membangun sekolah untuk mendidik masyarakat disana karena beliau yakin dengan pendidikan maka kehidupan masyarakat akan berubah.

Setiba sesampai di Amerika, Greg merasa kebingungan apa yang harus dilakukan seorang pemuda miskin untuk mewujudkan janjinya kepada seorang nun jauh di Pakistan sana. Terbayang olehnya anak-anak desa Korphe yang belajar di padang rumput yang dingin tanpa ruangan kelas. Mulailah beliau menulis kepada sejumlah orang terkenal, orang kaya yang alamatnya ada di majalah. Tetapi hasilnya sia-sia, sampai akhirnya ada seorang ilmuwan kaya yang memberinya 20 ribu dolar pertama untuk membangun sekolah tersebut. Dimulai dari desa Korphe kemudian akhirnya gerakan ini menghasilkan ratusan sekolah di Pakistan yang dikerjakan sendiri oleh penduduknya karena merekapun sangat mendukung gerakan ini.

Buku ini dilengkapi dengan beberapa foto yang menggambarkan betapa kerasnya alam di desa yang terletak di atap dunia tersebut, dengan bahasa yang begitu sederhana dan mengalir deras membawa imajinasi saya membangun gambaran desa-desa di pegunungan Pakistan. Kadang saya tersenyum jika Greg berhasil membangun satu sekolah lagi, kadang saya ikut bersedih melihat bagaimana terjadi peperangan antara Pakistan dan India yang mengakibatkan ratusan orang tewas dan ribuan menjadi pengungsi, kadang saya ikut ketakutan saya Greg menjadi tawanan kelompok Islam garis keras karena mereka curiga dengan gerakan yang dilakuan..... Perasaan saya benar-benar teraduk tetapi dari kesemuanya itu satu hal yang membuka mata saya bahwa satu hal kecil yang kita lakukan dapat membawa perubahan besar.

Buku ini sangat saya anjurkan untuk dibaca...!!!
http://www.threecupsoftea.com
http://www.gregmortenson.com

4 comments:

Angsoka47 said...

pinjem dong bukunya... kaya nya seru tuh...

Endah said...

boleh jeng...tapi kalo mo bantu si Greg beli aja..ntar 1 dolarnya akan dimasukkan ke CAI

winwin said...

waahhh...kayaknya bagus tuh!
oya, aku juga baru aja baca 2 novel karya 'tere liye' judulnya MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH & HAFALAN SHALAT DELISA.baguuusss banget juga lo..
udah baca belum?

shopping blog said...

The curve of pandora jewelry the end of the ironing board to Pandora charms act as the shoulder. Now, mist pandora bracelets and charms the shirt with your spray bottle and then buy Pandora you start ironing over the front of the discount pandora bracelets shirt. When you approach the part of Pandora necklace the shirt that has the buttons on the pandora necklace beads edges, you pull the bottom part of the shirt taught and then work against Pandora necklace sale the direction you are pulling at with the iron. Next you will then proceed to pull the shoulder taught by cheap pandora charms once again pulling the end of the shirt so that you can iron the front of the shirt where your pectoral muscles would be.