September 5, 2016

Kasih Sayang

Membaca judul tulisan ini, bisa jadi anda membayangkan kisah romantis atau semacamnya. Bukan, ini bukan membahas masalah-masalah roman percintaan atau semacamnya. Tulisan saya kali ini berdasarkan pengalaman saya hari Sabtu, 3 September lalu yang menerima banyak sekali kasih sayang melalui sudut pandang berbeda.

Hari itu, saya dan rekan-rekan pulang dari Samarinda setelah mengikuti perkuliahan jenjang magister yang sudah beberapa waktu saya jalani. Dalam perjalanan kami, seperti biasa banyak sekali obrolan dengan berbagai topik yang terkadang terlontar begitu saja. Biasa, perjalanan dengan jarak tempuh 3-4 jam jika tidak diselingi obrolan tentu akan membosankan, terlebih kami berusaha untuk mendampingi rekan kami yang bertugas sebagai pengendara kendaran agar tidak mengantuk. Saya, mb Anita, pak Haryono dan pak Ding merupakan tim yang cukup kompak, apalagi setelah lebih dari enam bulan kami melalui perkuliahan ini bersama. Banyak suka dan duka yang telah kami alami sehingga kekompakkan sudah terbangun dengan sendirinya.

Perjalanan hari itu cukup lancar walaupun hujan deras mengiringi perjalanan kami, cukup banyak perdebatan dan diskusi kecil kami. Mulai dari membahas materi kuliah, sampai chit chat tentang keluarga, politik, atau permasalahan kantor yang kami hadapi diselingi canda tawa terhadap lelucon atau kisah kami sendiri. Lumayan juga manfaat diskusi-diskusi kecil ini, paling tidak saya dan teman-teman bisa sharing mengenai berbagai pengalaman yang pernah kami alami atau bahkan saling menasehati.

Saya hari itu cukup gembira karena sudah membayangkan akan tiba di rumah sebelum azan maghrib berkumandang. Dengan kecepatan yang cukup tinggi, pak Haryono yang telah menempa dirinya berkali-kali melewati rute Sangatta-Samarinda membuat beliau sangat hapal dengan kondisi jalan yang dihadapi. Melewati kota Bontang, hujan deras terus membayangi. Pak Haryono, semakin cepat mengendarai kendaraan yang kami tumpangi. Tiba-tiba di sebuah tanjakan, mobil yang sedang berjalan kencang berhenti tiba-tiba.

Pak Har, begitu saya memanggilnya berkata,"kok, mobilnya ngga bisa jalan ya!.

Saya lalu menjawab," matikan dulu mesinnya, pak! ACnya juga dimatikan. Baru dihidupkan lagi!.

Pak Haryono pun melakukan saran saya, ternyata mobil tetap tidak mau menyala. Kami bertiga pun saling berpandangan, dan sepakat turun karena mobil kami berhenti di tengah jalan yang pastinya mengganggu jalannya lalu lintas. Saya dan mb Anita segera mencari sesuatu untuk menahan mobil untuk mengantisipasi agar mobil tidak mundur. Walaupun sudah menggunakan "handrem" tentu kekhawatiran itu masih ada di benak saya.  Saya melihat sebuah bata di selokan, mb Anita yang melihat saya membawa bata tiba-tiba nyeletuk, "kok, ada bata disini ya bu! Padahal di sekitar sini rumahnya kayu semua. Saya tidak berkomentar, melainkan langsung meletakkan batu bata tersebut di ban belakang mobil.

Saya melihat pak Ding, sudah mulai bertugas seperti polisi lalu lintas mencegah mobil-mobil yang datang berlawanan arah saling bertabrakan. Beliau menggunakan kantong plastik untuk menutupi kepala mencegah hujan membasahi kepala. Melihat hal tersebut saya, langsung merasakan dingin disekujur tubuh, hujan deras tanpa ampun sudah membuat basah seluruh pakaian yang saya kenakan. Lalu saya melihat sekeliling, rumah-rumah terlihat sepi seperti tak berpenghuni. Saya pun mengatakan kepada pak Haryono, mobil ini harus didorong agar tidak mengganggu lalu lintas. Mb Anita menyarankan kita bertiga mendorong mobil sehingga bisa berpinda ke pikir. Tetapi melihat kondisi kami yang pastinya sudah kelelahan, saya mengambil inisiatif mencari bantuan. Dengan segera saya berjalan mencari rumah yang terbuka pintunya untuk mencari pertolongan. Setelah berjalan beberapa saat, tibalah saya di sebuah toko penjual dan pembuat pintu dan semacamnya. Ada seorang ibu tua duduk dengan menggunakan kain sarung berwarna merah.

Saya pun bertanya, "Ibu, apakah ada orang yang bisa kami mendorong mobil?. Mobil kami mogok dan perlu di dorong agar tidak mengganggu lalu lintas".

"Di sini ngga ada orang, kalau mau saya panggilkan anak saya di atas", dengan logat khas Sulawesi yang cukup kental sambil menunjuk ke arah sebuah rumah yang cukup dekat.

"Mobilnya ditarik saja, nanti anak saya yang tarik dengan mobilnya", lanjut ibu tersebut.

Saya langsung lega tapi teringat sesuatu dan berkata,"kami tidak punya tali bu!.

"Itu ada talinya", kata ibu sambil memperlihatkan segulungan tali yang ada di atas meja

Kemudian ibu tersebut dalam hujan hanya menggunakan selembar sarung yang menutupi kepalanya berjalan memberitahu putranya untuk membantu kami. Saya, berdiri menunggu sambil berteduh. Tak tega rasanya melihat ketiga teman saya sudah basah kuyup di jalan raya bermandikan hujan. Tetapi untuk ikut bergabung dalam hujan, saya sepertinya tidak akan bisa bertahan. Selintas terlihat seorang wanita di dalam rumah ibu tadi.

Saya pun langsung memanggilnya, "Mbak, apakah saya bisa meminjam payung?.

Wanita muda ini pun keluar, sambil berkata "Ibu saya dari tadi juga mencari payung tapi tidak ketemu. Adanya hanya jas hujan".

"Saya pinjam jas hujannya, mbak. Nanti saya kembalikan". ujar saya

Akhirnya dengan menggunakan jas hujan tersebut saya pun dengan berani menghadapi derasnya hujan dihadapan saya. Sambil menunggu mobil anak ibu tersebut, saya berbincang dengan pak Har. Tiba-tiba, sebuah mobil pick up berhenti dan turunlah dua orang laki-laki. Seorang paruh baya dan lainnya masih muda. Mereka bertanya tentang mobil dan langsung menawarkan bantuan untuk melihat kondisi mobil. Saya menyarankan agar mobil ditarik terlebih dahulu baru dicek. Pas saya berlari mengambil tali, mobil anak sang ibu tadi juga datang membantu. Akhirnya diputuskan mobil kedua laki-laki yang menarik mobil kami. Setelah mobil kami berada di tempat yang aman yakni sebuah bengkel yang ada di sekitar lokasi. Saya dan mb Anita sambil berjalan kaki menuju ke bengkel tempat mobil kami ditarik. Sambil menunggu para bapak berdiskusi tentang perbaikan mobil, saya dan mb Anita menunggu di warung dekat bengkel dan memesan minuman dan makanan. Pak Har pun memesan segelas kopi untuk menghangatkan badan. Saat itu, kami berbincang tidak lama. Tiba-tiba kami melihat mobil kedua laki-laki penolong sudah berjalan tanpa pemberitahuan kepada kami.

Pak Har langsung berkata," Loh, kenapa mereka tidak berpamitan ya! Padahal saya mau memberikan sedikit biaya atau bantuan mereka. Betapa mereka ikhlas dalam membantu, sampai tidak mau berpamitan agar kita tidak memberikan apa-apa".

Saya pun terdiam, setelah beberapa saat kami mengambil keputusan untuk meminta bantuan suami saya menjemput dan mobil sementara kami tinggal di bengkel tersebut. Sementara menunggu, saya membereskan jas hujan, payung dan tali yang saya pinjam kepada ibu yang tadi saya temui. Dikarenakan jarak antara rumah ibu lebih jauh dibandingkan jarak rumah anaknya dengan bengkel, saya akhirnya memilih mengembalikan barang-barang tersebut kepada anaknya. Kepada anaknya saya menitipkan barang sekaligus uang untuk bantuan sang ibu. Pada awalnya anaknya menolak tetapi karena saya paksa akhirnya diterimanya uang tersebut.

Ternyata ibu tersebut melalui anaknya mengembalikan uang yang saya berikan. Berapa banyak sudah pertolongan yang kami terima hari itu dari orang-orang yang bahkan saya pun tidak sempat mengenal namanya. Inilah yang saya sebut kasih sayang bukan karena rasa cinta tetapi hanya karena rasa ikhlas dan kepedulian yang teramat tinggi terhadap orang lain. Saya pun tidak pernah tahu apakah saya bisa menjadi seperti ibu atau kedua lelaki penolong kami. Terima kasih tak terhingga, kasih sayang ibu dan bapak membuat kami melewati hari dengan penuh gembira tanpa harus mengeluh terhadap kesulitan yang kami hadapi. Semoga ini menjadi pelajaran bagi saya dan teman-teman untuk bisa selalu bermanfaat bagi sesama.





2 comments:

Anita Mayasari said...

Pengalaman yang sangat berharga buat kita ya ... bu Endah... dimana kita bisa bertemu dengan orang-orang yang dengan ikhlas mau membantu kita, walaupun mereka tidak pernah mengenal kita tanpa pamrih.

Endah Wulandari said...

Iya, mb Anita... Kita dapat pengalaman yg beragam hari itu